Tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.
Di perang Uhud, ketika tubuhnya memerisai Rasulullah dan tujuh puluh
luka berlomba menguras darahnya, Thalhah ibn ‘Ubaidillah berdoa sambil
menggigit bibir. “Rabbii”, begitu lirihnya, “Khudz bidaamii hadzal yauum,
hattaa tardhaa. Ya Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau
ridha.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya
badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.
“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi”, begitu
Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Thalhah”. Dan Thalhah, yang jalannya
terpincang, yang jarinya tak utuh, yang tubuhnya berlumur luka tersenyum malu
dan menitikkan air mata. Terlihatlah di pipinya bening luh itu, mengalir di
atas darah yang mengering merah.




