Selasa, 01 Agustus 2017

Sebuah Kenangan Atas Cinta


Tiap pahlawan punya kisahnya sendiri.

Di perang Uhud, ketika tubuhnya memerisai Rasulullah dan tujuh puluh luka berlomba menguras darahnya, Thalhah ibn ‘Ubaidillah berdoa sambil menggigit bibir. “Rabbii”, begitu lirihnya, “Khudz bidaamii hadzal yauum, hattaa tardhaa. Ya Allah, ambil darahku hari ini sekehendakMu hingga Engkau ridha.” Tombak, pedang, dan panah yang menyerpih tubuh dibiarkannya, dipeluknya badan sang Nabi seolah tak rela seujung bulu pun terpapas.


“Kalau ingin melihat syahid yang masih berjalan di muka bumi”, begitu Sang Nabi bersabda, “Lihatlah pada Thalhah”. Dan Thalhah, yang jalannya terpincang, yang jarinya tak utuh, yang tubuhnya berlumur luka tersenyum malu dan menitikkan air mata. Terlihatlah di pipinya bening luh itu, mengalir di atas darah yang mengering merah.

AYAH dan IBU KEKASIHKU



@salimafillah

Jika beliau ﷺ bicara tentang insan yang amat dicintainya, "Dia di neraka", dapatkah sejenak kita bayangkan apa yang dirasanya saat kalimat itu bergema?

Jika suatu kali Al Musthafa ﷺ yang memang tak diizinkan berdusta harus mengatakan pada seorang sahabat yang bersedih, "Ayahku dan Ayahmu di neraka", untuk menunjukkan tenggangrasa terdalam dari jiwanya yang lembut, dapatkah kita sejenak menempatkan hati ini ke dalam dada beliau ﷺ?


Dan jika perbedaan pendapat para 'ulama tentang siapa yang dimaksud "Ayah" dalam hadits itu kita jadikan sebagai sumber perpecahan padahal beliau ﷺ berharap dapat menyambut dan menghulurkan minum pada semua ummat di telaganya, apa kiranya yang akan beliau ﷺ katakan?

Kumohon, hentikan.

Dengan penuh cinta Imam An Nawawi dan para 'ulama lain telah mengajukan hujjahnya . Jika benar bahwa kedua orangtua Rasulillah ﷺ di dalam neraka, maka bukankah yang benar tak selalu harus diungkit senantiasa?

MENIKAHI ILMU


@salimafillah

"Mengapa akhir-akhir ini tak kulihat engkau di majelisku?", tanya Sa'id ibn Al Musayyib, mahaguru para Tabi'in di Madinah pada 'Abdullah ibn Abi Wada'ah.

"Istriku baru meninggal karena sakit wahai Syaikh", ujar anak muda itu, "Aku sibuk mengurusnya hingga tak sempat duduk menadah ilmumu. Maafkan aku." Wajahnya kuyu dan lelah. Setiap yang melihatnya akan langsung mengenali tanda-tanda kefakirannya.

Seusai mengajar, Imam Sa'id ibn Al Musayyib menggamit lengan 'Abdullah dan berbisik padanya, "Sebaiknya engkau segera menikah lagi agar dirimu terjaga dan hidupmu tertata."

"Siapakah yang akan mau menikahkan putrinya dengan duda fakir sepertiku?", sahut 'Abdullah dengan senyum jujur. "Hanya ada dua atau tiga dirham yang jadi kekayaanku."

SEDEKAT BERSIN


@salimafillah

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, seorang pemuda bersin di kursinya. Diapun bertahmid, “Alhamdulillah.”

Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “Yarhamukallah.”

Maka diapun menjawab, “Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.

Harap diketahui bahwa ini adalah tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus digersangnya dakwah, dan ucapan “Yarhamukallah” adalah ilmu yang masih jarang diamalkan. Keduanya terasa surgawi.


Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda dan diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu.

“Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda dan alamat lengkapnya.”

Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.

USIA dan CINTA


@salimafillah

Apa makna usia bagi cinta?

Bagaimana jika seorang pemuda gagah yang diambilputra oleh lelaki mulia, menikahi pengasuh ayah angkatnya? Aneh memang, sungguh wanita itu seangkatan neneknya. Apa yang menyebabkan dia merundukkan hati dan kemudaan untuk menjadikannya pasangan jiwa?


Tapi dalam hidup; mungkin memang ada yang lebih tinggi dari cinta. Mungkin itu yang ditemukan si pemuda dalam sabda ayah angkatnya, "Siapa yang ingin menikahi wanita ahli surga", ujar Sang Nabi suatu hari, "Nikahilah Umm Aiman."

Maka Zaid pun maju, tanpa ragu.