Untuk semua
yang sedang punya hajat, apapun hajatnya, dan untuk semua yang sedang punya
masalah, apapun masalahnya, segeralah datang kepada Allah. Dan bicaralah
kepada-Nya. Sungguh DIA Maha Mendengar semua keluhan, Maha Mendengar semua
permintaan, dan Maha Kuasa juga mengabulkan, dan mewujudkan. Sungguh, tiada
yang pantas didatangi, diperdengarkan segala curahatan hati, kecuali Allah. Hanya
Allah yang bisa menjaga rahasia. Hanya Allah juga yang punya kemampuan dan
kekuasaan, dan Allah juga yang memiliki segala kehendak dan pertolongan.
Kedekatan
diri kepada Allah, dan kesabaran meniti jalan di Jalan-Nya, insya Allah akan
berbuah ketenangan, dan terangnya jalan hidup.
Sementara
itu, tiada juga yang sedang berusaha, bekerja, memiliki usaha, dan pekerjaan,
seharusnya ia lebih dekat lagi dengan Allah. Allah yang sudah memberinya segala
karunia, justru kadang menjadi yang pertama dilupakan, dilalaikan, disepelekan.
Ga punya
modal, minta modal, nyari modal. Sebelom dapat modal, punya modal, sudah lupa
sudah lalai, kemudian bertambah-tambah lupanya, bertambah-tambah kelalaiannya.
Kadang Allah
memberi kepada seseorang, padahal orang tersebut sebenernya tiada datang
kepada-Nya, tiada meminta kepada-Nya. Barangkali Allah menghendaki orang
tersebut menjadi jala rizki bagi hamba-hamba-Nya dan alam ini. Namun
berlimpahnya karunia, rupanya tetap tidak membuat orang tersebut mampu
bersyukur. Hingga akhirnya Keputusan itu datang. Keputusan mengurangi, dan
mencabut, atau bahkan Keputusan Allah memberinya beban kehidupan yang berat.
Dari
sendirian, hingga berkeluarga. Dari tidak punya anak, hingga punya anak. Semua
Karunia tentu saja dari Allah. Namun tidak ada Allah di dalam keluarga ini,
tidak ada Allah di dalam kehidupannya. Jangankan ibadah-ibadah yang sunnah;
dhuha, tahajjud, berbagi, urusan yang wajib pun; shalat 5 waktu, puasa, zakat,
haji, berantakan.
Bila ada
orang yang tidak bertuhan Allah di kemiskinannya, di keterpurukannya, maka ada
juga yang tidak bertuhan Allah di kekayaannya, di kejayaannya. Semoga kita
tidak termasuk di dalamnya. Di dalam kemiskinan dan kekayaan, kita senantiasa
terus bersama Allah. Di dalam kemiskinan kita tangguh, bersabar, dan bersyukur.
Dan di dalam kekayaan, kita semakin tangguh, semakin bersabar, semakin
bersyukur.
Salam dan
doa, Yusuf Mansur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar