oleh : Anis
Matta, Lc.
Suatu
hari, lebih dari 15 tahun lalu, lelaki itu datang dengan tenang. Jaket tentara
rada lusuh yang ia kenakan membuatnya tampak gagah dan berwibawa. Tapi
kelembutan tetap memancar kuat dari sorot matanya. Disana ada cinta. Disana ada
cinta. Memanggil-manggil. Seperti sinar purnama yang memancar kuat menembus
awan malam. Itulah pertama kali saya melihat guru saya, KH.Rahmat Abdullah,
ketika beliau mengisi salah satu materi dalam sebuah dauroh di Puncak. Saya
masih mahasiswa saat itu. Pertemuan pertama itu menguatkan kesan yang telah
terbentuk sebelumnya dalam benak saya tentang wajah seorang dai, seorang
murobbi, seorang mujahid. Setidaknya pada biografi tokoh-tokoh pejuang Ikhwan
di Mesir, atau Jamaat Islami di Pakistan, atau Masyumi di Indonesia.
