Tampilkan postingan dengan label Ust Rahmat Abdullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ust Rahmat Abdullah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2018

Bersama Al Haq dan Ahlul Haq



“Selalulah bersama kebenaran, walaupun engkau sendirian.”
(Hal-1) Alangkah idealnya pesan ini bagi mereka yang mampu memilah egoisme pribadi dan tarikan negative grafitasi in grouping yang sering tampil menjadi kembaran egoisme itu sendiri. Perasaan ikhlas kadang terkacaukan oleh kecenderungan egoisme akan melahirkan khawarij zaman yang dungu dan menafikan kebersamaan, hanya karena kelemahan umat dalam menggapai injazat (karya-karya) dakwah secara serempak, kemas dan tuntas. Seperti egoism murjiah yang menikmati kelezatan fatalism dan mengolah menunya untuk duduk disantap dengan lahap oleh para tiran: “vonis itu nanti di sana, dan amar ma’ruf nahi munkar tiada guna, dosa jangan disesali dan kebajikan usahlah disyukuri, karena kita cuma setitik debu yang diterbangkan angin takdir kemana ia mau.”

Minggu, 23 Juli 2017

BEAUTIFUL

BEAUTIFUL


Sudah lama saya tidak bertutur tentang sedekah di Republika. Awal-awal dulu perjuangan dakwah, atas izin Allah, saya banyak dibantu Republika.

Memublikasi ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya tentang sedekah. Republika pun tidak sedikit memuat testimoni Keajaiban Sedekah.


Salah satu kisah menarik yang ada di pekan ini, berkaitan dengan kisah seorang ibu yang hamil. Lama sekali beliau nggak hamil-hamil. Hingga kemudian tertarik untuk sedekah. Alhamdulillah, setelah sedekah, suaminya dipecat dari pekerjaannya.

Kamis, 16 April 2015

Rahmat Abdullah, Simbol Spiritualisme Dakwah Kita


oleh : Anis Matta, Lc.

Suatu hari, lebih dari 15 tahun lalu, lelaki itu datang dengan tenang. Jaket tentara rada lusuh yang ia kenakan membuatnya tampak gagah dan berwibawa. Tapi kelembutan tetap memancar kuat dari sorot matanya. Disana ada cinta. Disana ada cinta. Memanggil-manggil. Seperti sinar purnama yang memancar kuat menembus awan malam. Itulah pertama kali saya melihat guru saya, KH.Rahmat Abdullah, ketika beliau mengisi salah satu materi dalam sebuah dauroh di Puncak. Saya masih mahasiswa saat itu. Pertemuan pertama itu menguatkan kesan yang telah terbentuk sebelumnya dalam benak saya tentang wajah seorang dai, seorang murobbi, seorang mujahid. Setidaknya pada biografi tokoh-tokoh pejuang Ikhwan di Mesir, atau Jamaat Islami di Pakistan, atau Masyumi di Indonesia.

Selasa, 14 April 2015

Cermin Diri


KH Rahmat Abdullah

Orang-orang bijak pernah berpesan "Ma halaka ‘amru-un arafa Qadra nafsihi" (Tak akan celaka orang yang kenal harkat dirinya). Telah banyak orang binasa karena terlalu tinggi memasang harga diatas realita dirinya. Banyak yang lenyap dari peredaran karena terlalu murah menghargai dirinya – dengan waham ‘tawadhu’ atau perasaan tidak mampu dan tidak punya apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang yang berjalan dalam tidur atau tidur sambil berjalan. Tepatnya pengigau berat. Ia tak pernah bisa menyadari dimana posisinya, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang mengancam ummatnya.

KH Rahmat Abdullah: Kebangkitan Islam Hanya Soal Waktu




PEKANBARU – Cita-cita kebangkitan Islam bukanlah mimpi di siang bolong. Ia bisa diwujudkan asal memenuhi syarat untuk bangkit. Selain eksistensi umat yang nyata disetiap aspek kehidupan, kebangkitan juga mensyaratkan bangkitnya ulama dalam memimpin umat. Ulama harus menjadi pelopor kebajikan dan suritauladan. Jika kedua syarat itu terpenuhi, kebangkitan hanya soal waktu.

Demikian orasi yang disampaikan Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KH Rahmat Abdullah dihadapan ratusan massa kader PKS di halaman Masjid Baitul Makmur, Jalan Warta Sari, Tangkerang Selatan, Pekanbaru, Riau, Senin (22/9/2003) lalu. Kehadiran petinggi PKS itu di Pekanbaru adalah dalam rangka safari dakwah dan temu kader PKS se-Pekanbaru.

Kedunguan Kasta vs Komitmen Perjuangan


KH Rahmat Abdullah

Pada suatu hari lewatlah seseorang di depan Rasulullah SAW. Beliau bertanya kepada seseorang disampingnya: "Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?" Orang  itu menjawab: "Ia lelaki golongan terhormat. Demi ALLAH, seandainya meminang pastilah diterima dan bila memberi pembelaan pasti dikabulkan". Lalu Rasulullah  SAW berdiam. Kemudian melintaslah seseorang. Rasulullah bertanya kepada orang yang disampingnya tadi: "Bagaimana pandanganmu tentang orang ini?" Ia menjawab: "Ia muslim yang faqir. Bila meminang pantas ditolak, bila memberi pembelaan takkan didengar pembelaannya dan bila berbicara takkan didengar ucapannya". Rasulullah SAW bersabda : "Sepenuh bumi ia lebih baik daripada orang tadi (yang pertama)" (HSR Muslim).

Minggu, 12 April 2015

Cahaya Di Wajah Ummat





Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.

Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW:

Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu
(Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ).

Sabtu, 11 April 2015

Bashirah (Kekuatan Mata Hati)



…………….“Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walaupun ia melontarkan berbagai alasannya” (QS.AI-Qiyamah:14).

Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. la cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. la bashirah yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. la memuat sejarah lampau, gambaran depan dan keadaan sekarang.

Aku Rindu




KATA-KATA "SANG MURABBI" KH RAHMAT ABDULLAH
Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah keperluan, bukan sekedar sambilan apalagi hiburan … Aku rindu zaman ketika mambina adalah kewajiban bukan pilihan apalagi beban dan paksaan … Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan, bukan sekedar pelangkap pengisi program yang dipaksakan … Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan, bukan keraguan apalagi kecurigaan … Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan, hujatan dan obyekan…. Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan bukan su’udzon atau menjatuhkan …