Senin, 31 Juli 2017

Allah Maha Menutupi Aib


Malam itu, 22 Juni 2013, saya mengikuti acara mabit di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Temanya tentang Move ON. Salah satu pengisi materi kajian adalah Ust Salim A. Fillah.


Beliau bercerita tentang orang-orang yang berjuang move on dari berbagai ujian yang datang kepada mereka. Beliau bercerita tentang Nabi Yusuf a.s. Sebelumnya, saya pernah posting berbagai ujian yang dialami oleh Nabi Yusuf a.s

Ditengah-tengah cerita, beliau bertanya kepada jama’ah, “Siapa nama perempuan yang menggoda Nabi Yusuf?”


“Zulaikha,” jawab jama’ah kompak.

“Dari mana tahunya bahwa nama perempuan itu Zulaikha? Allah tidak menyebutnya dalam Qur’an.”

Reflek jama’ah menjawab, “Dari hadits.”

Hadits mendukung kisah yang ada dalam Qur’an dengan lebih detil.

“Mengapa Allah tidak menyebut nama Zulaikha dalam Qur’an?”

Semua jama’ah diam. Ust melanjutkan penjelasannya.

“Karena perempuan ini MASIH MEMILIKI RASA MALU. Apa buktinya bahwa ia masih memiliki rasa malu? Ia menutup tirai sebelum menggoda Yusuf. Ia malu dan tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang perbuatannya. Dan Allah menutupi aib orang-orang yang masih memiliki rasa malu dihatinya, dengan tidak menyebut namanya dalam Qur’an.”

Saya tak kuasa menahan air mata saya mengingat aib dan dosa saya yang Allah tutupi. Betapa Allah Maha Baik. Tak hanya sekali, namun berulang kali Allah menutupnya. Hanya karena masih memiliki rasa malu, Allah tidak membuka identitas kita.

Pernahkah ada seseorang yang nampak baik dihadapan orang lain?

Apakah semua karena begitu banyaknya kebaikan yang dilakukan orang itu?

Atau karena Allah telah menutupi aib orang itu?

Mungkin ada yang mengganggap saya, kamu, kita adalah orang yang baik.

Jika saja mau jujur, sungguh…itu bukan karena kebaikan kita. Itu semata karena Allah masih menutupi segala aib kita. Jika tidak, maka habislah kita. Terpuruk, seterpuruk-terpuruknya. Malu, semalu-malunya. Hina, sehina-hinanya. Seperti tak ada lagi tempat tersedia untuk menerima kita.

Kita harus berusaha menutupi aib orang lain sebagaimana Allah yang Maha Baik telah menutupi aib kita selama ini.

Saya hanya mampu berdoa seperti yang dicontohkan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq r.a,

“Ya Allah, jadikan diriku lebih baik dari sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka.” _________________________

sumbrr : MA 5 Diteruskan oleh: @ichanastasia @irma_pelangi ka dina @aliqfiya

Via:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar