Senin, 31 Juli 2017

Kultwit Ustadz Salim A Fillah tentang #Keluarga


Posted on Desember 27, 2011
by ridhoadhie

Satu Tahun sudah usia pernikahan kami, dan saat saat yang paling indah untuk dikenang adalah saat akad nikah terutama khotbah, karena pada saat saat itu saya dan isteri seperti diingatkan kembali mengenai tanggung jawab seorang suami dan isteri.


Pada kesempatan kali ini ijinkan saya mengutip kembali kultwit (kuliah lewat twitter) mengenai keluarga yang pernah di posting oleh Akhina Shalih Arif Nursalim a.k.a Ustadz Salim A Fillah. Insya Allah Kultwit ini bisa menjadi pengingat diri saya sendiri dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

1.Selalu ada waktu yang harus terluang untuk keluarga; yang tentang mereka Allah akan pertanyakan kepemimpinan & bimbingan kita.
 
2.Seruan mula pada Sang Nabi; “Dan beri ingatlah keluargamu yang terdekat!” (QS 26: 214), maka hikmah & nasehat adalah hak mereka.

3.Allah katakan “Jagalah dirimu & keluargamu dari api neraka!” (QS 66:6), maka dihajatkan kebersamaan penuh makna & keteladanan.

4.Anak & isteri adalah kesenangan hidup di dunia. Maka tugas kita adalah mengupayakan agar kelak berkumpul jua, bahagia di surga.

5.Anak & isteri adalah titipanNya, maka kita harus menjaga, agar kelak saat dikembalikan, mereka sesuai keadaan awalnya: fithrah.

6.Isteri & anak adalah karuniaNya. Sudahkah tertunjukkan rasa syukur atas kehadiran mereka; di lembutnya kata & syahdunya mesra?

7.Isteri & anak: fitnah & ujian. Dalam membersamai & menyenangkan; bergulatlah hasrat dengan keterbatasan; lalu diujilah ketaatan.

8.Bahagialah suami & ayah; yang memastikan tiap suapan ke mulut isteri-anak & segala yang dikenakan, halal-thayyib tak meragukan.

9.Bahagialah suami & ayah; membimbing isteri & anak mengulang hafalan, tadabburi Quran, mengisah penuh cinta sirah Nabi & sahabat.

10.Berbahagialah; suami & ayah yang khusyu’ menangis mendoakan keselamatan, keberkahan, serta kebaikan anak-isteri & keturunannya.

11.Bahagialah suami & ayah; mengecup dengan doa perlindungan & cinta saat isteri-anaknya lelap tidur, jua saat berpamit bepergian.

12.Berbahagialah suami & ayah; syukur & takjubi kemajuan isteri & anak dalam berkebaikan, lalu ada peluk, doa, & hadiah sederhana.

13.Bahagialah suami & ayah yang jadikebanggaan anak-isteri; tapi tak menumpulkan pengembangan diri mereka dalam hidup berbakti.

14.Tanggungjawab suami & ayah demikian agung; seakan saat isteri dinikahi & anak dilahirkan, mereka bersabda: Bawa kami ke surga!

15.Bahwa ada kisah Nuh dengan isteri & anak nan durhaka, itu penyadar bahwa suami & ayah tiada punya kuasa atas jiwa nan dicinta.

16.Bahwa hidayah bukan hak ayah & suami, hattapun dia seorang Nabi. Yang kita pertanggungjawabkan ikhtiyar kita, bukan hasilnya.

17.Tapi naiflah ayah & suami yang berlindung di balik nama agung Nuh & Luth, tanpa upaya meluangkan saat berharga untuk keluarga.

18.Pun para isteri; agunglah mereka dalam juangnya untuk menjadi apa yang ditaujihkan Al Quran; Shalihat, Qanitat, Hafizhat. (Asiyah meski bersuami sejahil Fir'aun -red)

19.Bagi suami; mereka penggenap separuh agama, penjaga ketaatan, tempat berlari dari yang haram & keji menuju yang berkah & suci.

20.Maka para isteri itu tahu; untuk siapa mereka berdandan & mempercantik diri; tersenyum & penuh pemuliaan menyambut kepulangan.

21.Pada cium tangan takzim & mungkin airmata, bisik mereka mesra, “Suamiku; kami lebih sabar tuk berlapar, daripada ‘adzab nan besar!”


Via:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar