Senin, 31 Juli 2017

MAHAR, WALIMAH, dan NAFKAH (Bagian II)


@salimafillah

"Ada 3 orang yang amat tekun beribadah di Masjid pada masa kekhalifahan Sayyidina 'Umar, Radhiyallahu 'Anh", tutur Dr. Jaribah ibn Ahmad Al Haritsi mengutip Ibn Katsir dalam Al Fiqhul Iqtishadi li Amiril Mukminin 'Umar ibn Al Khaththab.


Kepada orang pertama Khalifah bertanya, "Apa yang kaulakukan di sini wahai hamba Allah?"

Orang itu menjawab, "Beribadah, sebagaimana kaulihat wahai Amirul Mukminin."

"Lalu siapa yang menanggung nafkahmu dan keluargamu?"


"Janganlah engkau mengkhawatirkanku wahai Amirul Mukminin", ujarnya sambil tersenyum, "Kami ada dalam jaminan Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi."

Maka Sayyidina 'Umar beralih pada orang kedua dan bertanya hal yang sama.

"Aku dan saudaraku berbagi tugas", ujar orang ini. "Dia bekerja di pasar sementara aku memperbanyak ibadah dan mendoakannya. Kami berserikat dalam hasil perniagaannya."

Sayyidina 'Umar tertawa dan bertitah, "Demi Allah, saudaramu itu lebih ahli ibadah dengan apa yang dikerjakannya dibanding dirimu." Kemudian beliau beralih pada orang ketiga.

"Seperti kaulihat hai Amirul Mukminin", katanya, "Aku beribadah di sini. Dan ada saja hamba Allah yang berbaik hati mencukupi keperluanku."

Orang ketiga ini ditendang oleh Sayyidina 'Umar keluar dari Masjid dan kepadanya diberikan tongkat beserta alat. "Demi Allah", bentak beliau, "Berkeringat untuk bekerja dan merasakan lelahnya itu jauh lebih baik daripada engkau duduk di rumah Allah tapi hatimu berharap pada pemberian manusia."

Rizqi itu jaminan Allah. Bekerja adalah ibadah kepada Allah dan kehormatan di mata manusia.

Maka Dr. Jaribah sampai menyimpulkan, Sayyidina 'Umar menghendaki semua muslimin aktif dan produktif meski tanpa bekerjapun mereka berkecukupan. Orang Quraisy yang tidak terjun berniaga dihardik keras. Modal tidak boleh berhenti. Lahan yang tidak ditanami 2 musim berturut bisa disita negara dan ditawarkan pada yang mampu menggarap. Bahkan harta-harta anak yatimpun dimudharabahkan agar tak terkurang oleh zakat dalam haulnya.

Para bujang shalih yang hendak menggegas bernikah dan bernafkah, segera mulailah. Pemuda yang tempo hari kita bahas lamarannya, mengumpulkan tabungan dari beberapa jual beli kecil, menggalang modal, dan membuka usaha fotokopi serta persewaan pernak-pernik TKA/TPA/PAUD di awal kuliah.

Apakah usahanya sukses?

Barangkali ukuran suksesnya bukan dari berapa banyak pendapatannya perbulan. Melainkan kesungguhannya, kelelahannya, keterhubungannya dengan beberapa orang adalah ketukan di pintu Allah Sang Penggenggam Rizki. Lalu Allah membuka pintu lain yang lebih besar daripada yang diketuknya.

Jika kita bekerja, 'itqan, ditekuni sampai ahli, ihsan, dilakukan melampaui harapan pihak yang menikmati hasil kerja itu; katakanlah kita punya kelayakan dibayar 1 milyar karena kesungguhan di sana, maka jika hanya 1 juta yang berbentuk uang kita terima, yakinlah Allah akan membayar 999 juta lainnya dalam berbagai hal tak terduga; istri shalihah, anak shalihin dan shalihat, kesehatan, ketentraman, kemampuan untuk shalat di Masjid, kemampuan berpuasa, serta beramal shalih lainnya.

Maka apatah lagi bekerja ikhlas, yang pahalanya tak terhingga. Rizqi yang datang sesuai jaminanNya pastilah berkah seberkah-berkahnya.

Tukang sapu yang hanya menggumamkan UMR, barangkali memang mendapat sesuai gajinya. Tapi tukang sapu yang hatinya bernyanyi, "Ya Allah, kubersihkan agar tak ada yang terpeleset, tak ada yang tersandung.. Agar semua terlatih hidup bersih.. Agar orang faham kesucian adalah cabang keimanan.. Agar indah dan orang memujiMu melihat keindahan..", siapakah yang mampu membayarnya selain Allah?

Ayo bekerja para bujang shalih, dan percayalah pada Allah melebihi percaya diri.


(Foto: berbincang dengan rekan seusai saling menjamu sekira 2007, Allah bukakan pintu rizki dengan banyak silatirrahmi. Kisah lobi-lobi dan nego-nego Mahar, Walimah, serta Nafkah di bagian berikutnya insyaallah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar