Rabu, 26 Juli 2017

Hubungan Antarsaudara

Hubungan Antarsaudara


Polemik dan keributan yang terjadi sebenarnya bisa melalaikan kita. Keributan membuat kita lengah. Misalnya ada keributan yang terjadi di antara saudara. Keributan itu bisa memang karena disebabkan internal sendiri atau keributan itu disebabkan atau terjadi akibat prasangka dari pihak lain. Eksternal.


Ketika keributan itu terjadi, maka lengahlah kita. Lengahlah seluruh saudara. Semuanya terfokus pada keributan itu. Seluruh energi terkuras habis hanya untuk ribut. Akibatnya, nggak ada yang menjaga dapur, nggakada yang menjaga lemari, nggak ada yang menjaga brankas, atau lainnya. Padahal, itu semua barangkali yang sedang diincar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Jika suatu kaum atau kelompok nggak bisa ditundukkan dari luar, maka orang yang nggak suka dengan kelompok itu akan memanfaatkannya dari dalam. Mereka acak-acak internalnya supaya ribut sendiri, termasuk juga keluarga kita diacak-acak. Ketika ayah dan ibu ribut, maka anak-anak pasti terbengkalai tak terurus.

Sesekali ribut, ya, boleh-boleh saja, wajar, lumrah. Tapi, kalau terus-menerus ribut dan membesar, bahaya akibatnya.

Karena itu, semua elemen keluarga mesti banyak menahan diri. Lihatlah kepentingan yang lebih besar daripada hanya ribut sendiri-sendiri. Jangan melihat pada kepentingan sesaat. Pikirkan masa depan yang lebih luar dan lebih besar.

Lihat, tuh, ayam. Ayam tahu bahwa di dalam rumah ada makanan. Orang yang ribut, lupa mengawasi makanan itu. Ayam menunggu momentum untuk menyantap. Nah, ketika orang yang di rumah pada ribut, maka nyelononglah si ayam ke dapur. Dimakannya makanan yang sudah jadi incarannya.

Sebenarnya, orang yang ribut itu tahu kok kalau si ayam itu mengincar makanan di dalam rumah. Mereka bahkan tahu rencana ayam. Tetapi, karena semua pada ribut dan fokus pada keributan, maka lengahlah pada ayam. Akibatnya, begitu makanan di dalam rumah habis atau berantakan, baru mereka menyadarinya.

"Elo sih, ente sih,kamu sih." Itulah ungkapan yang muncul setelah semuanya baru menyadari. Semuanya sudah terlambat. Sementara, si ayam pergi dengan santai dan perutnya sudah kenyang. Ayam dengan bangganya berkokok, seolah mengejek mereka yang ribut.

Untuk itu, marilah kita semua mengerem, mengendalikan hawa nafsu. Allah mengajarkan kita untuk berpuasa. Perbanyaklah puasa sunah, perbanyaklah sujud dan zikir supaya bisa lebih sabar dan pandai mengendalikan hawa nafsu.

Sayangnya, kita kadung lengah dan lalai. Boro-boro sujud atau puasa sunnah, zikir pun tak sempat. Kita terlalu banyak bermaksiat. Tidak dipanas-panasi saja kita sudah panas duluan. Akibatnya, kita terlalu mudah dikalahkan musuh yang sebenarnya tidak terlalu kuat bahkan sangat lemah.

Barangkali ayam akan berkata: "Salah kamu sendiri kok. Salah saya apa? Kenapa saya dibawa-bawa?" Ah, sudahlah. Mari kita introspeksi diri, jangan mudah terpancing. Salam.


(sumber:Republika edisi Senin, Januari 2015 Hal. 1 Oleh Ustaz Yusuf Mansur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar