Minggu, 30 Juli 2017

KAPAN LAMARAN? (Bagian III)


@salimafillah

Belum dilamar itu menggelisahkan. Tapi dilamar oleh orang yang belum dikenal lagi tampak tak meyakinkan itu lebih bikin galau.

Demikian pula bagi gadis itu.


Yang diketahuinya hanya bahwa pemuda itu bersemangat sekali untuk segera menikah. Dua kali berjumpa pun dia sudah langsung meminta peta untuk membawa keluarganya datang melamar. Pekerjaannya? Penulis katanya. Tapi karyanya belum pernah dia baca. Punya usaha fotokopi kecil-kecilan. Entah di mana. Masih kuliah. Bahkan usianya baru 20 tahun. Itu lebih muda daripada dirinya.


Kalau pelamarnya seperti ini, gundahnya berlipat kali.

Bagaimana menjelaskan ini semua pada keluarga? Betapa mendadaknya. Betapa mengejutkannya. Betapa tidak meyakinkan pelamarnya. Apalagi kakaknya belum lama menikah. Apa kata orang sekampung kalau direpotkan dengan acara besar lebih dari sekali dalam setahun oleh satu keluarga?

Dengan susah payah, dengan ungkapan sesopan mungkin di suasana sesantai mungkin, hal ini disampaikannya. Tapi pasti bagi keluarganya, ini bagai petir menggelegar di terang siang. Dan pertanyaan paling horor yang sama sekali tak diduganya pun muncul.

"Ini bukan karena kamu sudah hamil to, Ndhuk?"

Pertanyaan ini di dada si gadis, rasanya meledak sebagai bom atom ketiga setelah Hiroshima dan Nagasaki. Tangisnyapun pecah. Diiringi pula tangis ibu yang sangat disayanginya.

Perlu 3 hari sampai dia bisa menjelaskan semuanya. Tapi tetap tak meyakinkan. Jangankan meyakinkan Bapak dan Ibunya, meyakinkan diri saja rasanya belum utuh. Dan hari kedatangan keluarga itu semakin dekat.

Gadis itu hanya dapat pasrah kepada Allah. Dan Allah yang Maha Perkasa punya cara tak terbatas untuk menolong hambaNya.

Tetiba sang Bapak bertanya, "Apa pekerjaan pemuda itu Ndhuk?"

"Penulis."

"Penulis itu Sekretaris? Atau Carik begitu?"

"Penulis buku."

"Oo.. Buku Pelajaran seperti yang di Sekolah mungkin ya? Kalau orangtuanya?"

"Eh, bukan Pak. Eh, kalau Bapak-Ibunya dua-duanya Guru."

"O, Guru. Bagus kalau begitu. Ya sudah, Bapak setuju."

"Lho?"

Ternyata kata "Guru", bagi orang sebersahaja dan sepolos sang Bapak mengandung banyak makna. Guru adalah orang pandai lagi terhormat. Beliau menduga, pastilah mereka bisa mendidik putranya dengan baik. Dulu ketika kecil, sang Bapak sangat terkesan dengan para Guru dan ingin menjadi Guru. Tapi takdir Allah menentukan beliau ditempatkan menjadi pegawai jujur di lingkungan sebuah dinas di Kabupaten. Sang bapak merasa, berbesan dengan guru, sosok-sosok terpelajar itu, adalah kebaikan.

Pertolongan Allah sering jalannya tak terduga. Si gadis justru lalu juga seperti diyakinkan gara-gara sudut pandang ayahnya. Dia berfikir, "Kalau pemuda itu bisa meyakinkan Ayah dan Ibunya yabg Guru untuk segera menikah di usia ini, ah pastilah cara berfikir dan caranya menyampaikan pandangan pada kedua orangtuanya istimewa."

Tapi tanggal itu, 18 Juli 2004, si pemuda telah membuat gara-gara. Dia mengatakan pernikahannya harus segera. Atau dia mencari yang lain saja. Sungguh terlalu.. Sungguh terlalu..

Cerita akan kita sambung pada "Kapan Ijab Qabul?" insyaallah, karena ada guncangan dahsyat beberapa menit menjelang akad.

(Foto: di Puncak Lawu, sekitar 2005. Peristiwa mendebarkan di atas tepat terjadi di kaki gunung ini, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi.) — di Ngrambe Ngawi East Java



Tidak ada komentar:

Posting Komentar