Sabtu, 22 Juli 2017

ROTI KOSONG

ROTI KOSONG

Bismillaah… Ini tentang riya.

Dari balik kemudi, seorang kawan menoleh ke kanan, “Kamu liat masjid itu. Kalau bukan karena aku, ga ada pintunya.”

Beberapa bulan yang lalu, masjid kekurangan duit untuk pintu masjid. Empat pintu masjid, plus pintu-pintu kamar-kamar mandinya, aku yang pasangkan.


Mobil lalu melaju, masjid pun tertinggal di belakang. Tidak kelihatan lagi dari balik spion. Kawan ini masih menambahkan. “Saya kalau lewat masjid tadi, suka tersenyum. Makasih dah dikasih kesempatan buat nutup biaya pasang pintu. Jadi bisa beramal sebelom mati. Dan sejak itu, saya demen banget nanggung pintu-pintu masjid. Saya datangi masjid-masjid yang sedang dibangun, lalu saya sampaikan, pintunya biar dari saya saja. Jadilah kemudian masjid-masjid di sekitar sini dan beberapa masjid di beberapa kota, pintunya dari saya.”


Kawannya mendengar. Dia tidak terganggu dengan seluruh kalimat kawannya ini. Kecuali kalimat kecil di awal. “Kamu liat masjid itu. Kalau bukan karena aku, ga ada pintunya.” Ini yang dikoreksi sama kawan ini. Bukan semua kalimat.

Sebelom saya sambung nanti, saya punya “hutang”, tentang amalan dari Wirda agar bisa mimpi ketemu Nabi Muhammad SAW. (Baca artikel Mimpi Wirda)

Kata Wirda saat 7 tahun umurnya, “Rasul ngasih tau ke Kaka, kalo mau ketemu Rasul, baca Surah Muhammad…”

Begitu kata Wirda. Nah, coba dah baca. Jangan-jangan malah ga tau ada nama Surah yang pake nama Nabi. Baca juga artinya. Kalo bisa malah dihafalin kata Wirda, supaya berulang-ulang bacanya, dan disimpen tuh surah di hati dan pikiran.

Tentang riya, belajarnya ga bisa sekali jalan. Kudu santai, kudu dengan hati lapang. Dan terus-terusan belajarnya. Jadi ga sempit.

Sekuel lanjutan niy.

Seseorang jalan menuju satu anak yatim yang dia ketahui lagi sakit. Dia tunggu malam agak larut. Kira-kira jam sebelas malem, dia jalan keluar rumah. Menuju rumah yatim tersebut. Dia ga kepengen ada yang melihat, ga kepengen ada yang tau. Pengennya hanya Allah yabg tau amalannya. Dia masukkan selembar seratus ribuan ke dalam amplop. Tanpa nama. Lalu dia bawa. Bulan dan bintang melihat. Pepohonan, dedaunan, kerikil, pasir, pun melihat. Menjadi saksi keikhlasannya.

Di tengah perjalanan, papasan dengan seorang kawan. “Mau kemana?”. Dijawabnya enteng, “Nyari angin.” Lalu berlalu dari kawannya itu, tanpa ngasih tau mau ngasih duit ke yatim di seberang sana.

Di depan rumah yatim tersebut, ia masukkan amplop tak bernama ke selipan pintu bawah. “Pagi-pagi mereka akan senang,” bisiknya. Kembalilah ia ke rumah. Puas hatinya. Ia berdoa, “Amalku hanya untuk-Mu yaa Allah. Biar Engkau saja Yang Tau. Bahkan aku tak berharap balas dari-Mu yaa Allah. Biarlah amalku untuk-Mu tanpa aku berharap balas.”

Beginilah tipe ikhlas yabg dikenal masyarakat Indonesia secara luas. Semua pun insyaAllah sepakat, inilah ikhlas. Memang. Ya, memang. Ga salah. Luar biasa. Jalan gelap-gelap, memberi tanpa diketahui, papasan tak buka rahasia. Dan tak ada doa.



Jika ikhlas hanya satu jenis seperti cerita tadi, maka hilanglah kesempatan banyak manusia untuk beramal lebih. Ini yang saya sebut dengan roti kosong. Roti tanpa mentega, tanpa keju, tanpa seres, tanpa susu, tanpa lain-lain.

Saya mah mengerjakannya dengan “isi”. Maksudnya dengan doa. Doa itu permintaan dan harapan. Nggak usah pake sedekah, doa itu boleh dipanjatkan. Betul… Doa mah nggak sedekah juga tidak apa apa. Apalagi tentu kalau mau membarengi dengan sedekah sebagai amal saleh penggiring doa.

Yang lain yang tidak meminta sama Allah, akan pulang dengan membawa pahala sedekahnya saja. Sedang saya dan jutaan orang yang meminta kepada Allah dengan mendahului sedekah, akan pulang dengan membawa pahala sedekah, keyakinan dan pahala doa.

Doa juga ada pahalanya loh.. Sebab meminta kepada Allah itukan doa. Muklishina lahud din, ikhlas, nurut, manut, percaya, sama yang apa Allah gariskan.


Ikhlas dalam bahasa Indonesia, jangan disamakan dengan ikhlas dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, apalagi bahasa agama,kata kata ikhlas panjang artinya. Bukan kosongan model pengertian ikhlas dalam bahasa Indonesia.

Kalau dalam bahasa Indonesia kesannya seperti tidak boleh meminta apa apa. Masak sama Allah jadi nggak boleh minta? Sedang kita malah disuruh minta sebagai sarana ibadah juga sama Allah SWT. Siapa yang minta sama Allah, tandanya perlu. Semakin banyak mintanya, semakin bagus.

Saya mah nggak mau dengar omongan orang yang ngomong begini, “Jangan minta sama Allah terus. Malu.” Maksudnya sih pasti bagus. Tapi saya benar benar nggak mau pakai kalimat itu. Saya lebih suka pakai, “Minta terus sama Allah. Sering sering. Tapi, jangan lupa amal salehnya, ibadahnya, tauhidnya. Diperbaiki.”



Yusufmansur.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar