Senin, 24 Juli 2017

Jadikan Indonesia Negeri Bercahaya Alquran

Jadikan Indonesia Negeri Bercahaya Alquran

Pada tanggal  27-30 April tahun 2013, berlangsung Mu’tamar al-Qur’an International, yang diikuti 65 negara. Mulai dari negara-negara di benua Arab, Asia, Eropa, Amerika, hingga Australia. Beragam warna kulit mereka. Semuanya menyatu dalam dakwah Alquran.


Adalah Hai-ah al ‘Alamiyah li tahfizh al-Qur’an, pimpinan Syeikh Bashfar yang berpusat di Jeddah, bekerja sama dengan Kerajaan Bahrain, khususnya Kementerian Agama dan wakaf. Hadir pula sejumlah menteri agama dan wakaf dari berbagai negara peserta muktamar.

Subhanallah, Indonesia tidak sendirian dalam gerakan dakwah Alquran. Melainkan bersama-sama dengan banyak orang dari seluruh penjuru dunia, yang semuanya digerakkan Allah untuk berkhidmat kepada Alquran.


Saya merasa surprise ketika bertemu dengan beberapa mereka. Ada yang dari Universitas Islam Rotterdam, Belanda, tapi fasih berbahasa Arab. Ada yang dari Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan negara-negara lainnya.

Tak terbayang di benak saya kepada mereka akan kemampuannya. Bukan hanya bisa berbahasa Arab, tapi juga hafal Alquran, dan mengajarkannya. Komplet.

Benarlah berita Allah, bahwa Alquran itu diturunkan untuk semua bangsa, semua manusia, bahkan untuk seluruh alam semesta ini.

Dan saya melihat dunia sedang berlomba-lomba mencintai Alquran, kembali kepada Alquran, dan memuliakannya.

Saya melihat ruh itu. Semuanya memiliki spirit, semangat, motivasi yang tinggi, dan keyakinan, bahwa Alquran adalah solusi.

Mudah-mudahan kita termasuk yang membenarkan Rasulullah, bahwa Allah akan memuliakan, memberikan berkah dan rahmat, dan mengangkat derajat kaum yang cinta  kepada Alquran, berkhidmat, mempelajari, mengajarkan, mendakwahkan dan menyiarkan Alquran, dan beramal dengan Alquran.

Sebaliknya, Allah akan menghinakan, memberi laknat, musibah yang terus menerus, kebingungan, kegalauan, kegelisahan, kerendahan, kenistaan, kesusahan bagi mereka-mereka yang jauh dari Alquran, melalaikan, apalagi bagi kaum yang mengingkari Alquran, menjadikannya sebagai hinaan, merendahkan, dan bahkan memusuhi serta membenci Alquran.

Saya melihat negeri kita ini juga sedang kepayahan untuk membenahi jutaan problem bangsa dan negara. Semua solusi seperti diambil dalam keadaan panik, tergesa-gesa, dan menyandarkan pada kekuatan berpikir dan ikhtiar semata. Tidak berdasarkan pada petunjuk Alquran.

Bahkan tidak jarang, omongan zaman terdahulu, bahwa Alquran bukan solusi. Alquran dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman. Mereka menyatakan bahwa Alquran tidak wajib ditaati. Yang mereka pedulikan hanya konstitusi yang marak didengung-dengungkan akhir-akhir ini.

Galau semakin galau. Jauh semakin jauh. Susah semakin susah. Kayak jalan di kegelapan, di malam hari tanpa cahaya. Jika seperti ini, maka nanti berganda-ganda kegelapannya.

Padahal sederhana, semua yang dibutuhkan negeri ini ada dalam Alquran. Alquran mengajarkan kejujuran, amanah, tanggung jawab, memperhatikan sesama, saling mengasihi dan berbagai macam kebaikan.

Dengan perbedaan yang asas, yakni semua kebaikan dunia itu, harus disertai dengan sujud, ruku, shalat, menyembah Allah. Itulah yang dibawa Alquran.

Dan saya melihat, sebagian orang di negeri ini mulai menyadari bahwa dirinya rusak, dan ingin kembali. Sebagiannya lagi tidak menyadari, dan terus berbuat kerusakan dan merusak.

Muktamar Alquran di Bahrain ini, menyadarkan saya, bahwa dakwah Alquran, harus lebih lagi dinamis. Harus lebih lagi menyentuh persoalan-persoalan kehidupan berbangsa. Hingga semua menjadi yakin, bahwa Alquran itu adalah jawaban.

Sejumlah 65 negara, dengan perwakilannya masing-masing, atas izin Allah, saya minta doanya untuk Indonesia, seluruh rakyat, dan seluruh aparat pemerintahannya, untuk menjadikan semua urusannya, kesulitannya, dan hajatnya dengan Alquran. Sehingga negeri kita menjadi negeri yang dicintai Allah. Baldatun wa rabbun ghafur. Amien. 

Sumber :Buku Allah dulu,Allah lagi,Allah terus

Repost n reshare by :  t.me/NgajiBarengYM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar