Senin, 10 Juli 2017

Menjadi Lemah



Hanya bersandar kepada Allah dan yakin pada pertolongan-Nya,kita menjadi kuat.

IS, sang penjual nasi yang mendapat berkah tersebut, belum tentu mendapatkan berkah yang begitu banyak, andai ada perubahan suasana hati.


Koq jahat bener ya Allah? Hanya gara-gara perubahan suasana hati, lalu berkah amal saleh Allah tidak beri. Ya memang ini akan jadi diskusi panjang. Mudah-mudahan bisa dibahas di lain tempat.

Sekarang, kita coba bahas IS tersebut.


Allah menyuruh kita percaya pada-Nya, mengikuti seruan-Nya, dan bersandar hanya pada-Nya. Lalu IS dan istrinya percaya pada Allah. Dia sedekahkan uang 1jt-1jt nya yang ia punya, padahal uang ini sejatinya untuk bayar kontrakan dan bayar ini itu.

Ternyata, sampe hampir dua bulan, Allah ga balas-balas tuh amal salehnya. Setidaknya menurut pengetahuan dan perasaannya. Kan, kadang begini, Allah sebenernya udah balas, cuma kitanya aja yang ga berasa. Sebab belum tentu juga balasan Allah itu hanya uang. Bisa juga balasannya berupa panjang umur, sehat, anak sehat, keluarga bahagia, dan seterusnya. Tapi oke lah, IS dan istrinya menunggu balasan Allah. Tapi ya itu tadi, balasan Allah ga kunjung datang.

Ketika kesulitan relatif memuncak; Kontrakan udah mau habis, air susu anak sebagaimana diceritakan sebelumnya sudah diganti dengan air gula, mereka berinisiatif untuk meminjam kepada orang tuanya. Tapi mereka urungkan ini. Mereka khawatir mereka menjadi lemah.

Saya mengamini, ya mereka akan menjadi lemah, manakala mereka berpindah sandaran. Mereka udah benar. Bertahan saja dengan kesusahannya itu. Makin susah, makin baik. Biar Allah tahu bahwa mereka jadi tidak bisa bayar kontrakan sebab uang kontrakannya disedekahkan. Biar Allah tahu bahwa anak mereka mengalah minum air gula sebab jatah susunya disedekahkan.

Kondisi-kondisi begini kalo dibawa ke shalat malam lalu diadukan ke Allah, wuah, cakep banget. Bahasanya tentu saja bukan bahasa mengeluh. Tapi bahasa pasrah. Misal, “Ya Allah, kami serahkan uang kami kepada-Mu. Sedang Engkau tahu tidak ada yang kami miliki lagi kecuali itu. Dan Engkau pun tahu ya Allah, bahwa uang itu sedianya untuk membayar kontrakan, susu dan yang lain-lainnya. Ya Allah, andai balasannya adalah ampunan-Mu, kasih sayang-Mu, ridha-Mu, kepanjangan umur kami dalam keadaan sehat dan beriman, maka tidak mengapa ya Allah Engkau tidak membalas sedekah kami dengan uang. Tapi ya Allah, kami pun tahu bahwa Engkau tidak akan mengingkari janji, dan Engkau lah Yang Maha Memberi Rizki, Engkau pula Yang Maha Memenuhi Kebutuhan-kebutuhan kami…”.

Nah, kalo kita sudah melengkapi dengan doa semacam ini, dengan kepasrahan semacam ini, cakep bener tuh. Sayang, kalo kemudian kita “melengkapi” sedekah atau amal kita, dengan malah pindah sandaran ke manusia.

Saya membayangkan, andai IS bener-bener minjam ke orang tuanya, bisa saja IS dapat uang. Tapi kemudian pertolongan Allah tidak akan bener-bener terasa. Beda, kalau udah setengah pingsan, kemudian pertolongan Allah datang, wah, ini baik benar untuk menambah keyakinan dan iman kita. Akan terasa benar pertolongan Allah itu.

Apalagi kenyataannya, belum tentu ketika IS dan istrinya minjam ke orang tuanya lalu orang tuanya menyediakan, atau orang tuanya ada uangnya. Belum tentu. Jangan-jangan malah menjadi lemah kita adanya.

Misal, terjadi dialog yang melemahkan seperti ini. Kita berandai-andai istrinya IS yang maju ke orang tuanya:
(+) Pak, boleh saya pinjam uang?
(-) Suamimu kemana?
(+) Ada.
(-) Kalo ada, koq minjem uang sama Bapakmu ini?
(+) Ada. Tapi uangnya yang ga ada.
(-) Emangnya ga kerja?
(+) Kerja.
(-) Koq kerja ga ada duitnya? Buat apa kerja?
(+) Sebenernya ada sih Pak.
(-) Loh, kalo ada, koq masih tetap minta sama Bapak?
(+) Uangnya disedekahkan dua bulan yang lalu.
(-) Maksudnya?
(+) Ya, dulu ada duit. Tapi ngelihat Ustadz Yusuf di TV.
(-) Apa hubungannya?
(+) Katanya, kalo mau kaya, ya sedekah apa yang kita punya.
(-) Wah, ya engga gitu. Sedekah koq pengen kaya.
(+) Ya, saya juga sudah sampaikan itu.
(-) Terus, suamimu tetap maksa?
(+) Iya.
(-) Ya, sudah. Itu kebodohannya.
(+) Tapi Pak, saya butuh banget uang itu. Buat susu anak. Sama kontrakan.
(-) Ya, minta sama suamimu itu. Berapa uang yang dulu kamu sedekahkan?
(+) 1 juta Pak
(-) Bagus! Bapakmu ini saja ga pernah dikasih uang 1 juta…

Nah, kalo situasi dialog ini yang terjadi, kira-kira apa yang akan terjadi? Lemahlah istrinya, dan tidak baguslah hubungan antara mertua dan mantunya itu. Bahkan, sang istri pun sekarang akan jadi serba salah.


Tapi kemudian IS dan istrinya memilih keep silent. Dia pasrah saja sama Allah. Ya akhirnya kejadian dah apa yang diceritakan di tulisan sebelumnya ini. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar