Kamis, 27 Juli 2017

Ga nyadar dan Ga tau



"Sesat tapi hati lega. Sesat tapi hati tentrem. Sesat tapi hati bahagia...? Sudah begitu gelapkah hati kita?"


(@Yusuf_Mansur). Apa-apa kalau tidak belajar, emang juga bisa tidak tahu. Tapi salah belajar, juga bisa semakin tidak tahu. Ketika belajarnya adalah belajar yang salah. Atau belajar sama yang salah.

Misal, mencuri... Mencuri adalah perbuatan salah. Tapi ketika belajar bahwa "Toh kalau Allah membiarkan kamu mencuri, maka itu adalah Kehendak-Nya", maka tak apa. Maka tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan.


Belajar bahwa "bersetubuh, bersenggama, adalah kebutuhan asasi manusia. Silahkan saja. Lakukan. Jangan halangi dirimu melakukannya. Yang penting jangan lupa. Pake kondom. Pake pengaman. Supaya kamu tidak kena penyakit. Mainlah dengan safety." Tentu saja ini juga TIDAK DAPAT DIBENARKAN". Salah belajar. Salah ngajar.

Banyak lagi hal lain yang terjadi di masyarakat. Keliatannya bener. Ga taunya sesat. Salah. Tapi hari ini terasa kita ga boleh menyalahkan. Apalagi menganggapnya sesat. Sampe akhirnya manusia merasakan dampak keburukan dan kejahatan sesuatu yang salah dan yang sesat, dibiarkan.

Hari ini banyak sekali yang keliatannya indah. Tapi ternyata jelek sekali. Rusak sekali. Parah akibat buruknya dan meruntuhkan keindahan asli yang sudah diberikan Allah.

Tapi gegara ga ada petunjuk. Ga nyari petunjuk. Ga mendapatkan petunjuk... Dari Yang Maha Benar. Yang Maha Menjaga. Yang Maha Memiliki Kebenaran. Maka kemudian keindahan palsu itu diterjang. Dijalankan. Dilakukan.

Akhirnya, ketika keindahan itu kemudian tampak kebobrokannya, barulah terasa busuk dan baunya. Menyesal, bisa jadi berguna. Selama masih ada umur dan ada kesempatan dan izin untuk memperbaikinya. Nah yang harus dipikir, jika diri sendiri yang rusak, yang merasakan kerusakan, maka ia bisa jadi bisa mengubah dirinya.

Tapi sebagai manusia sosial, ia juga kudu mikirin dampaknya jika ternyata ia sudah merusak diri orang lain. Apalagi jika kerusakan itu masif. Ia misalnya, mengajar, mengajak, mendorong orang, untuk melakukan "keindahan", yang menurut hawa nafsunya indah. Lalu orang lain melakukan. Dan "mereferensikan" lagi keindahan palsu itu kepada yang lain... Nah... Ia juga harus ga selamat sendiri. Harus juga mestinya, menyelamatkan yang lain.

Saya bener-bener melihat sudah mulai kerusakan moral, mental, bahkan sebenernya kejahatan kemanusiaan... Tapi kemudian disesatkan pikirannya, disesatkannya hawa nafsunya, disesatkan kebodohannya. Akhirnya kerusakan itu malah dianggap sebagai sebuah kemajuan dan peradaban baru manusia.

Saya ga tega mencontohkannya di sini. Apalagi meneruskan tulisan ini dengan contoh-contoh yang lebih menukik. Biarlah di lain kesempatan nanti pelan-pelan saya contohkan. Sekarang saya mau berdoa kepada Allah. Agar Allah kasih petunjuk-Nya buat kita semua.

Izinkan saya meneruskan dengan hal yang lain. Tapi masih berkaitan...

Di halaman kedua qs al Baqarah... ada "penyakit2" & "kerusakan2", yg sifatnya laa yasy'uruun (لا يشعرون). Yang orangnya tidak sadar. Nganggapnya baiiiiikkkk aja. Bennnneeeeerrr aja. Baik itu perbuatan dirinya. Atau juga perbuatan orang lain. Padahal buruk dan salah.

Dan ada juga yang laa ya'lamuun (لا يعلمون). Yang ia tidak ketahui.

Karena tidak tau, akhirnya gelap. Sesat. Salah. Buruk. Dan ga bener.

Krn itu Qs al Baqarah juga diawali dengan alif laam miim (الم), & bcr tentang the petunjuks. The gaidens. Dzaalikal Kitaabu laa roiba fiihi, hudal lil muttaqien.

(ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين)

Al Qur'an ini... Tidak diragukan lagi. Petunjuk... Bagi orang yang bertaqwa...

Semoga semua bisa kembali ke Qur'an. Jd nyadar. Jd tau.

Tidak sedikit pula... Udah mah ga nyadar. Juga sok tau. Dan sebagiannya lagi malah berjuang untuk membuat orang tidak sadar. Dan membuat orang tidak tau.


Tugas kita... Menyadarkan. Dan memberi tahu. Tugas yang lain adalah mendoakan. Agar sadar. Agar tau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar