Rabu, 19 Juli 2017

Jajal sedekah, sebab rasa syukur.

JAJAL SAJA

Jajal dhuha, sebab rasa syukur.

Jajal tahajjud sebab rasa syukur.

Jajal sedekah, sebab rasa syukur.

Bukan saja karena kepentingan dan keinginan dunia. Lihat kalimatnya: “Bukan saja…”. Ya, sebab tak mengapa juga sebenarnya.


Yakni tak mengapa kita shalat malam, sebab pengen diangkat derajat oleh Allah, Puasa Daud sebab pengen diubah jadi kaya… Dhuha sebab pengen dibuka rizki dan kemudahan. Gapapa sedekah sebab pengen dibanyakkan rizki, tak mengapa, tapi jajal yang berbeda. Yakni jajal Dengan semangat rasa syukur. Dhuha, sebab makasih sama Allah, masih bisa menikmati pagi, bisa sarapan, bisa ngeteh, bisa kerja…

Kumpulin semangat rasa syukur di pagi hari, apa aja yang bisa disyukuri, lalu ambil wudhu dan shalat dhuha. Tahajjud, sebab juga rasa syukur, mendusin bangun, suami/istri masih di samping. Anak-anak sehat. Lalu tahajjud. Thanks to Allah.

Sedekah, bukan saja pengen dibanyakin rizki, tapi pengen bersyukur. Alhamdulillaah, jantung sehat, ginjal bener, kaki tgn lengkap.

Baca Qur’an, bukan saja pengen meraup pahala dan kebaikan, bukan saja pengen syafaat atau pertolongan Allah, tapi karena juga rasa syukur. Dikasih mata, tangan, mulut, maka kita brsyukur dengan membuka lembaran Quran dengan tangan, dan melihat Quran, lalu membacanya.

Temukan ibadah sebab rasa syukur. Nikmaaaaaattt rasanya… Temukan ya… Apalagi kalo bisa bersyukur di kala sempit, susah, sedih… Syukur di saat senang, happy, banyak uang, dapat modal, lulus sekolah, diwisuda, dan lain-lain kesenangan, terbilang “biasa”.

Syukur yang lebih hebat, adalah saat kebalikannya. Misal, paginya bercerai dengan suami, dalam keadaan menyakitkan… Lalu ambil wudhu… Shalat dhuha… Ingin berterima kasih untuk 7-8 tahun pernikahan… Dalam keadaan hati hancur berkeping-keping, say thanks to Allah lewat shalat dhuha… Luar biasa…

Allah liat 7 hari ke depannya, istri ini tabah, kuat, ngga ada komplennya… Dan permintaanya, pengen diampunin selama jadi istri… Maka awan pun segera berubah dan diubah jadi biru. Teraaaaannnnggg hidupnya…. Keadaan serta merta berbalik…

Di hari ke-8, suami yang sudah menceraikannya, balik lagi… Subhaanallaah… Maha Suci Allah… “Maaf De… Ada barang saya yang ketinggalan…” Begitu kata suami yang pekan lalu menjatuhkan talak.  Kirain setelah hidup penuh syukur, suami benar-benar kembali. Kembali rujuk. ngga taunya ada barangnya ketinggalan, he he…

“Masuk aja Mas… Masih kamarmu koq…”

7 hari dilalui dengan penuh syukur… ngga ada benar-benar keluhannya. Bahkan shalat malam pun, dengan rasa syukur. Hilang suami, malah dapat Allah.

Tiba-tiba hadir lagi sosok yang sudah berusaha untuk dilupakan. Dan sosok itu permisi masuk kamar, kamar yang penuh kenangan 7-8 tahun menikah…

Suami itu pun pamit setelah ngambil barangnya. “Permisi ya De…”. Tanpa senyuman. Tanpa sentuhan. “Ya Allah…

Sadar masih ada wudhu… Ia balik lagi ke atas sajadahnya… Lagi-lagi pengen bersyukur… ngga pengen komplain…

Ngga begini nih… “Ngapain sih balik lagi?! Nyebelin banget. Cuma mau ambil barangnya…”. Engga. Engga begitu.

Istri ini memilih teruuuuussss bersyukur… “Makasih ya Allah… Bisa kulihat lagi wajah suamiku…”.

Coba terusin nih kisah… Kirim ke teamyusufmansur@gmail.com. Yang ngirim imel ke imel tersebut, berupa terusan kisah. Kasih subject: #jajal.

Ok, sampe ketemu lagi. Mudah-mudahan saudara termotivasi, terangsang, untuk menulis.

Salam hormat,

@yusuf_mansur.

Jajal untuk tidak ngomel-ngomel, ceritanya bersambung dan sambungin sendiri, he he.

Saya doain semoga sendiri-sendiri jadi istri yang tabah, sabar, dan saudara jadi suami yang ngga egois, ngga belagu


source: www.yusufmansur.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar