Selasa, 11 Juli 2017

Sedekah,Doa dan Pamrih (Bagian 2 Habis)

Sedekah,Doa dan Pamrih
(Bagian 2 Habis)

Sedekah, tanpa doa? 1 pahala.
Sedekah + doa ? 2 pahala.


Bila beda di awal, maka beda pula serencengan, he he he. Saya, terhadap amal-amal lain, ya ga nyebut itu sebagai pamrih. Bahkan ngarep di mata saya, adalah juga doa. Amal tinggi banget bila seseorang bisa ngarep sama Allah saja. Ga ngarep sama yang lain. Baru bermasalah, bila ngarepnya ke orang. Dia bantu orang lain, tapi ada maunya dari orang itu. Itu yang ga boleh. Atau riya (memperlihatkan amal kepada yang lain). Atau sum’ah (memperdengarkan kepada yang lain).


Baca Quran, supaya dapat berkah. Boleh ga? Nah di sini, beda konsep. Baca Quran, niatnya apa? Ya pastinya ridho Allah.

Ya baca Quran aja. Terus minta hidup berkah, kekayaan berkah, anak-anak berkah, rumah tangga berkah, pekerjaan berkah, usaha berkah, umur berkah, tenaga berkah.

Ketika nyebut “supaya”, itu udah masuk lagi-lagi ke wilayah doa. Jangankan sekedar berkah, atau katakanlah bahwa permintaan itu adalah “cuma” satu permintaan. Dia minta sejuta permintaan, setelah baca Quran, atau bahkan sebelum baca Quran, atau bahkan nih, tanpa baca Quran, maka doa itu boleh banget-banget. Ngarep, boleh-boleh banget. Tidak ada satupun yang berhak melarang.

Jika doa sudah disebut niat, maka itulah awal pertentangan atau perbedaan.

Koq sedekah pengen kaya?

Koq birrul walidain pengen diangkat derajatnya, koq dhuha pengen dibuka rizki… Salah semua jadinya. Padahal, menurut konsep yang saya ikutin, kalo masuk “supaya”, itu masuk wilayah doa sebagaimana disebut di atas. Adalah rugi jika seseorang yang beramal saleh, lalu dia tidak meminta kepada Allah. Rugi banget.

Tapi saya sangat setuju, jika kemudian permintaan itu tidak hanya bersifat duniawi belaka. Tapi minta ridho Allah, minta surga, pengampunan, selamat dunia akhirat. Apapun, itu namanya “minta”. Yang bagus, beramal yang banyak, dan minta yang banyak.

Tulisan yang gini-gini, sudah jadi buku kompleto atas izin Allah. Judulnya: Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep?

Boleh juga ada yang mengatakan. Niatnya melaksanakan tugas kantor. Ngejar target. Supaya naik pangkat, supaya promosi. Supaya naik gaji. Itu kalau di dunia manusia kerja. Apalagi kalau niatnya ibadah, ya keren banget.

Seluruh motivasi dunia, dibenarkan, menurut saya, jika mencarinya “hanya” di Sisi-Nya, dan dengan Cara-Cara-Nya.

Dunia adalah milik Allah. Dekatkan semua yang pengen dunia, dengan Pemilik-Nya. Supaya mereka tidak meminta dunia dari selain-Nya, dengan cara-cara yang tidak diridhai juga oleh Pemilik-Nya. Dan ajarkan mereka yang kepengen dunia, sebagaimana kita mengajarkan karyawan-karyawan kantor untuk bekerja terbaik, ngejar target, lalu dapet bonus terbaik juga.

Maka ajarkan yang pengen dunia, apa-apa yang diperintahkan Pemilik Dunia, supaya dapat bonus banyak fii-haadzihil-hayaatid-duniaa… Ajarkan mereka yang pengen dunia, untuk meninggalkan seluruh larangan Pemilik Dunia. Supaya dapet. Atau dapetnya dengan ridha-Nya.

Sebab banyak yang dapat, tapi tidak dengan Ridha-Nya. Dengan cara-cara yang benar, cara-cara yang betul, yang hati-hati, tapi penuh semangat, sebab dunia memang milik Allah. Sementara itu, Allah pun mengajarkan, bahwa semua dunia ini, ga ada seberapanya dibanding apa-apa yang Allah akan berikan di negeri akhir. Ini dia… Ga seberapa dibanding dengan apa-apa yang Allah akan beri di negeri akhir.

Jadi, bukan ga boleh. Justru boleh banget. Malah dimotivasi, bahwa akan dapat yang lebih baik lagi nanti di akhirat. Ajarkan pula kehati-hatian, bahwa jangan sampe berhenti di expecting something about dunia only. Harus lebih powerful. Minta itu selalu dua, selalu seimbang: permintaan dunia, permintaan akhirat… Kayak yang diajarkan Allah sendiri:Rabbanaa aatinaa fid-duniaa hasanah, wafil-aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.

Permintaan seimbang pun ternyata masih ga seimbang. Sebab Allah ngajarin 2:1, dua banding 1. Permintaan kebaikan negeri akhir, masih ditambah permintaan selamat dan terlindungi dari api neraka. Dua permintaan berbanding satu permintaan di dunia.

Ini sekaligus ngajarin juga kita, bahwa sebaik-baik permintaan, teta p permintaan akhirat. Tapi permintaan akhirat, tetaplah permintaan. Artinya, ya harus juga diminta. Jangan diem aja. Jangan sampe sedekah ya sedekah saja, baca Quran ya baca Quran saja, dhuha ya dhuha aja, berbuat baik ya berbuat baik saja. Jangan. Kudu ada permintaannya. Kudu ada doanya.

Salam. Selamat berbuat baik, dan berdoalah. Sesungguhnya Allah menunggu dan mendengar doa kita.

(YM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar