Selasa, 11 Juli 2017

TAMBAH USIA, BERKURANG TENAGA



PEMBACA yang saya hormati. Ini kenangan saya ketika Lebaran 1422 Hijriah nan lalu.  Hari cerah betul, secerah hati sebagian besar orang-orang di kampung saya.
“Udah kelar ngidernye?” Tanya Haji Muhidin waktu saya silaturahmi ke rumahnya. “Belonan Cang Haji, belon rapih ngidernya,” jawab saya.

Ngider adalah istilah Betawi, yaitu satu kegiatan kunjungan ke tetangga dekat rumah dan antarkampung.

Semua ditanyain Cang Haji, mulai dari istri saya, kemudian mertua, hingga anak-anak. “Syukur dah, kalo pada sehat semua,” kata Haji Muhidin pas saya jawab pada baik semua.


Selanjutnya Haji Muhidin menceritakan keadaan Nyai Haji, neneknya yang berusia sembilan puluh tahunan. “Lebaran kemaren dia masih bisa ngedenger, masih bisa ketawa, masih bisa ngebantuin bikin tape uli. Tapi sekarang, bangun saja kagak bisa. Penyakit tua,” cerita Haji Muhidin.

Haji Muhidin juga cerita kebiasaan-kebiasaan Nyai Haji yang lucu-lucu, juga kebaikannya. Haji Muhidin mengaku bahwa jasa Nyai Haji kelewat banyak buat kehidupannya.

Tapi begitulah. Sekarang Nyai Haji hanya bisa berbaring lemah tanpa daya. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya, kecuali gumaman seperti orang sedang berzikir. Matanya sudah tidak sanggup ia buka lama-lama. Bahkan buang air pun sudah ia lakukan di tempat tidur.

Haji Muhidin mengingatkan saya, bahwa begitulah kita nanti kalau dipanjangkan umur ‘sampe kelebihan’. Perlahan demi perlahan kita akan kembali lagi kepada kelemahan kita. Tidak ada manusia yang bertambah tua lalu bertambah tenaga dan kekuatannya. Justru akan semakin berkurang.

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian awal. Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (Yâsîn: 68).

Bahkan Allah mengingatkan, Dia menciptakan dan mematikan manusia. Dan di antara manusia, ada yang dikembalikan kepada kondisi umur yang terlemah, usia lanjut, yang mana ia tidak mengetahui sesuatu yang pernah diketahuinya sebelumnya.

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada keadaan yang paling lemah, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (an Nahl: 70).

ORANG YANG ARIF

Pengetahuan ini, kata Haji Muhidin, harus membuat kita menjadi orang yang arif dan ingat bahwa hanya Allah yang tidak pernah surut Kekuatan dan Kekuasaan-Nya. Hanya Allah. Sehingga tidak ada alasan kita menjadi orang-orang yang sombong, terus berbuat maksiat. Apalagi kalau sampai tidak mau shalat, tidak mau menundukkan diri di hadapan Penguasa alam semesta.

“Sebab apa? Sebab tidak ada pantes-pantesnya. Kita cuma manusia, ciptaan-Nya, yang tidak punya kekuatan apa-apa,” begitu kata Haji Muhidin.


“Persiapan menghadapi hari tua juga menjadi penting,” tambah Haji Muhidin. “Bukan sekadar nyiapin warisan. Warisan mah gampang, asal udah cukup ilmu dan agama pada anak cucu juga sudah cukup. Persiapan yang lebih penting adalah mempersiapkan amal baik buat di hari tua. Sebab, kata Nabi, penting menjaga lima hal. Salah satunya adalah masa muda sebelum datangnya masa tua. Mempergunakan sebaik-baiknya masa muda adalah bukan melakukan apa saja sebebas-bebasnya, tapi maksudnya kita harus membuat kebaikan-kebaikan yang berarti buat hari tua kita. Begitulah kira-kira…”(salam yusuf mansur/rf)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar