Minggu, 09 Juli 2017

GORONTALO: Sumpah Bontho

GORONTALO: Sumpah Bontho
@salimafillah

Amay, nama yang begitu berkah bagi rakyatnya.

Alkisah, raja yang bertakhta sekira 1460-1535 di Bumi Hulondalo ini meminang Owutango, putri Raja Palasa Ogomonjolo dari Teluk Tomini yang telah memeluk Islam. Maka sang putri dan ayahandanya mensyaratkan agar sang raja memeluk Islam, membangun Masjid, dan mendakwahi rakyatnya.

Amay menyanggupi.


Rumah ibadah yang kini disebut Masjid Hunto Sultan Amay di Biawu itu berdiri bersahaja namun gagah. Dan Amay segera menghimpun seluruh rakyatnya di pelataran, menyembelih babi, mengoles darahnya ke kening mereka, lalu membimbing mereka mangucapkan sumpah bontho. Kata ini adalah kependekan dari bolo yingoyingontiyolo monga boyi, yang berarti "ini hari terakhir kita makan babi".


Babi adalah simbol adat lama. Kini, makanan yang amat mereka gemari dalam tradisi agama Alifuru sebelumnya telah ditinggalkan sebagai tanda kemenyeluruhan mereka menerima Islam yang indah.

Semasa berkuasa, Sultan Amay beserta delapan raja di daerah itu itu melahirkan 185 rumusan adat. Di dalamnya termaktub upacara perkawinan dan kematian, perilaku berkeluarga, bermasyarakat, tata laksana penerimaan tamu, hingga penobatan pemimpin.

Hasil rumusan itu dikenal dengan prinsip Saraa Topa-Topango to Adati atau syariat bertumpu pada adat.

Prinsip adat yang digagas oleh Amay, kemudian disempurnakan pada masa pemerintahan Raja Eyato yang berkuasa pada 1673-1679, menjadi Adati Hulahulaa To Saraa, Saraa Hulahulaa To Quruani yang berarti Adat tunduk pada Syariat, Syariat bersendikan Al Quran.

Hari ini agenda terakhir kami berbincang ilmu di Gorontalo, semoga berkah.


https://www.instagram.com/p/BGNtS3CGUTB/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar