Minggu, 09 Juli 2017

Jalan Ilmu Jalan Cahaya


Ust. Salim A. Fillah.

“Duhai saudaraku, takkan pernah kau mampu meraih ilmu”, demikian salah satu syair yang dinisbatkan berasal dari Imam Asy Syafi’i, “Kecuali dengan enam yang harus terlaku. Akan kusampaikan padamu dengan penjelasan. Ialah kecerdasan, semangat, kesungguhan, pengorbanan, membersamai guru, dan panjangnya waktu.” Tentang kecerdasan, tentu yang beliau maksudkan seperti syair yang terkutip di awal bahasan. Dosa adalah pengganggu daya fahaman. Dan taqwa adalah kunci ketajaman akal. “Di antara seagung jalan meraih ilmu”, demikian dia sampaikan di lain kesempatan, “Adalah taqwa pada Allah. Sebagaimana Dia ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 282, 

‘Wattaqullah wa yu’allimukumullah.. Dan bertaqwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian.”


 Lima perkara berikutnya yang beliau sampaikan tersuling dari pengalaman yang menempa sejak keyatimannya. Dari ketekunannya mempelajari bahasa ‘Arab murni dan syair-syair sastrawi di tengah Suku Hudzail hingga perjumpaannya dengan Khalid ibn Muslim Az Zanji. Dari catatan ilmunya pada pelepah, pecahan tembikar, juga tulang dan kulit, hingga perjalanannya ke Madinah untuk berguru pada Malik. Dari majelisnya bersama Sufyan ibn ‘Uyainah di Makkah hingga debat-debat ilmiahnya dengan Muhammad ibn Hasan Asy Syaibani, murid Abu Hanifah. Dari penugasannya sebagai qadhi di Yaman, hingga fitnah menimpa yang mempertemukannya pada Harun Ar Rasyid. Dari majelisnya yang penuh sesak di Baghdad hingga madrasahnya yang teratur di Kairo. Dari lapar yang ditahan-tahan dalam belajar hingga 40.000 dinar yang habis dia bagikan sebelum sampai rumah. Dari wudhu’ ‘Isya’nya yang bertahan sampai Shubuh demi merenungkan satu hadits untuk menyusun ratusan istinbath hukum, hingga sakit wasirnya yang mengucurkan darah bagai mata air.

Jalan cahaya yang ditempuh Asy Syafi’i dan segala tempahan yang dia alami di dalamnya amat sangat kaya; berlapis-lapis, bertumpuk-tumpuk, berliku-liku.
Dan Ahmad ibn Hanbal, melangkah di jalan cahaya yang sama, dengan bias-bias pelangi yang tak kalah warna-warni.

Alkisah, satu hari di Baghdad, Ahmad mengungkapkan pada Asy Syafi'i harapannya untuk bisa bersafar lagi ke Yaman demi mencatat hadits-hadits dari Imam ‘Abdur Razaq. 

Adalah beliau dulu pernah melakukannya pada suatu musim haji bersama Yahya ibn Ma'in. Kala itu, di Makkah sebenarnya mereka telah bertemu 'Abdur Razaq yang juga sedang menjadi tamu Allah. Maka berkatalah Yahya, “Alhamdulillah, kita tak perlu jauh-jauh ke Shan’a. Penulis kitab Al Mushannaf sedang berada di sini. Kita minta saja beliau mengimlakkan haditsnya pada kita.” “Demi Allah”, sahut Imam Ahmad, “Ilmu yang berkah tidak diperoleh dengan cara seperti ini. Aku akan menanti. Baru kemudian akan kususul beliau ke Shan'a seusai beliau menuntaskan haji.” Dengan bekal menipis, sekembalinya ‘Abdur Razaq barulah Ahmad sendirian berangkat menuju Yaman. Bagi beliau, kurang Adab jika mendahului atau membersamai sang Imam.

Di Shan'a, untuk menafkahi kebutuhannya, Ahmad bekerja serabutan pada siang harinya. Barulah malamnya dia dapat bermajelis menyimak hadits. Imam 'Abdur Razaq yang tahu keutamaan dan ketekunan Ahmad belajar hadits, segera berupaya untuk membantu. Tapi aneka pemberian beliau ditolak dengan penuh hormat oleh Ahmad. “Bukankah Malik juga membiayai murid-muridnya?”, tegur sang guru. “Sungguh menyimak ilmumu lebih aku sukai daripada dunia seisinya”, sahut Ahmad tersenyum.

Pada kali yang kedua ini, dapat dirasakan oleh Imam Asy Syafi'i, tampaknya Ahmad menghadapi masalah yang sama. Yakni biaya. Sudah sering dia buncahkan keinginannya, namun belum juga dia berangkat ke Shan’a. Imam Asy Syafi’i sangat ingin membantu. Namun harta bukanlah sesuatu yang selalu tersanding di sisinya. Maka dengan kedudukannya yang mulia di sisi Harun Ar Rasyid, beliau menulis surat agar Ahmad diangkat sebagai Qadhi di Yaman.

Sebagaimana kita tahu, di masa mudanya, Imam Asy Syafi'i juga pernah menjadi Qadhi Yaman. Pada masa itu, keadilan dan kecerdasannya menyelesaikan berbagai sengketa pidana maupun perdata masyhur hingga ke berbagai pelosok. Keberhasilan itu, selainkan mendatangkan banyak sahabat, sekaligus pula menumbuhkan dengki pada beberapa hati yang keji.

Ia pada akhirnya berujung fitnah yang menyebutkan bahwa Asy Syafi’i terlibat dalam rencana pemberontakan bersama orang-orang Rafidhah. Tuduhan jahat ini membuat Asy Syafi'i ditangkap dan digelandang paksa. Dia berjalan kaki dalam belenggu berat dari Shan'a hingga ke Baghdad untuk dihukum di hadapan Harun Ar Rasyid. Sepuluh orang yang didakwa bersamanya kesemuanya dipenggal di depan sang Khalifah.

Dengan pertolongan Allah dan karunia ilmu yang ada pada dirinya, Asy Syafi’i, sang terpidana kesebelas selamat. Bahkan Ar Rasyid mendudukkannya di singgasana untuk mendengar ilmunya dan menangis menyimak nasehatnya. Fitnah di Yaman yang membawanya ke Baghdad, membuat Asy Syafi’i memasuki babak baru yang menjulangkan namanya.

Kali ini, dalam suratnya pada Ar Rasyid, Asy Syafi'i meminta agar Ahmad dijamin aman dalam jabatannya dan diberi kebebasan untuk mengundurkan diri kapanpun dia kehendaki. Ini dilakukan Asy Syafi'i demi membantu supaya Ahmad bisa terbiayai ke Shan'a, berjumpa 'Abdur Razaq, sekaligus mengamalkan ilmunya di tengah ummat, agar fiqhnya kian terasah.

Begitu Ahmad tahu tentang surat ini, dengan wajah masam didatanginya Imam Asy Syafi'i, “Abu 'Abdullah, demi Allah andai bukan engkau yang melakukannya, pasti aku bersumpah untuk tak lagi menemui penulis surat ini selamanya. Demi Allah, aku tidak mau ke Yaman dengan cara semacam ini.” Maka Imam Asy Syafi'i pun memohon maaf dan memeluk murid yang dibanggakan dan disayanginya ini. Kelak, ketika beliau pindah ke Mesir, beliau berujar dalam syair, “Kami meninggalkan Baghdad. Dan di sana tidak ada yang lebih ‘alim, lebih faqih, lebih wara’, dan lebih zuhud daripada Ahmad.” Dari mereka kita merunduk malu menyimak jalan ilmu. Ada ketekunan, ada Adab, ada perhatian, ada pertolongan, ada rasa hormat, ada kehati-hatian, dan ada saling pengertian. Semoga Allah menyayangi mereka dan kita. Semoga Allah rasukkan keteladanan keduanya dalam jiwa, dan mengumpulkan kita dengan keduanya kelak di surga.

Belajar sepanjang hayat dari buaian hingga liang lahat adalah jalan cahaya. Dan jalan itu, satu langkah yang diayunkan dalam kefardhuan ilmu adalah penggugur dosa, pengangkat martabat, dan pembuka jalan ke surga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar