Minggu, 09 Juli 2017

KISAH PEMPEK GAGAH:

KISAH PEMPEK GAGAH:
Palembang-Ternate-Surabaya
@salimafillah

Kata sahibul hikayat, pempek muncul di Palembang sejak gelombang besar perantau Tiongkok tiba akibat pergeseran kekuasaan dari Dinasti Ming yang asli Cina ke Dinasti Qing yang berasal dari Manchuria, di sekitar abad ke-17.


Kisah yang masyhur menyebut, sekitar tahun 1617 seorang Apek, lelaki tua keturunan Tiongkok berusia 65 tahun yang tinggal di daerah pemukiman rumah-rumah rakit atau disebut Perakitan, tepian Musi merasa sedih menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah tapi sering terbuang karena membusuk sebelum sempat diolah menjadi hidangan Melayu semacam bakaran atau pindang.


Si Apek kemudian mencampur serutan daging ikan dengan tepung sagu atau tepung singkong sehingga dihasilkan makanan baru yang awet dan dapat dikukus ulang.

Makanan ini barangkali adaptasi dari kekian, ngohyang, ataupun baso ikan di Pesisir Timur Tiongkok. Tambahannya adalah Cuko; air dengan gula merah, asam, ebi, cabe tumbuk, bawang, dan garam. Iapun dijajakan dengan berkeliling kota dengan berjalan kaki, baru kemudian di masa berikutnya dengan sepeda.

Ceritera tutur menyebut masa bertakhtanya Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang-Darussalam sebagai awal mula disebutnya hidangan ini sebagai pempek. Ia mungkin berasal dari kata "Apek", yaitu panggilan pada si penjual. "Pek.. Apek.. Pek.. Apek", begitu yang hendak membeli berseru, hingga dagangannya pun disebut pempek.

Angka-angka tahun kisah ini memang agak sulit dicocokkan. Kalau benar si Apek pertama kali membuat Pempek pada 1617, Mahmud Badaruddin II baru lahir pada 1767 dan bertakhta antara 1803-1813 serta 1818-1821. Ada jeda amat lama hingga ia disebut pempek. Apalagi bahwa singkong baru dibudidayakan luas di Nusantara sejak 1810.

Tapi kata kunci untuk tulisan ini memang Sultan yang gagah itu; Mahmud Badaruddin II.

Setelah kekalahan besar Laksamana Constantijn Johan Wolterbeek pada 1819 yang melahirkan pepatah 'Pelebur Habis Palembang Tak Alah', Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar pada 16 Mei 1821.

Kontak senjata pertama terjadi pada 11 Juni 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada 20 Juni 1821. Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda mengalami kekalahan. Tapi Jenderal Herbert Merkus De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia. Dia mengatur strategi penyerangan nafas panjang.

Memasuki bulan Ramadhan, De Kock mencoba menunjukkan maksud baik menghormati hari Jumat dengan tidak melakukan gempuran pada hari tersebut. Sultan dan rakyat dapat melaksanakan shalat Jumat dengan aman. Sebagai balasan, Sultan memerintahkan agar tidak menyerang pada hari Ahad, biarlah tentara Belanda beribadah.

Hal ini berjalan hingga pekan kedua, di mana pada dini hari Ahad menjelang sahur tiba-tiba De Kock melakukan gempuran besar-besaran dengan memasang paman dan sepupu Sultan, Susuhunan Husin Dhiauddin dan Ahmad Najmuddin di kapal terdepan.

Keduanya memang penguasa yang lebih dipilih Belanda sebab mau bekerjasama. Tapi bagaimanapun, Sultan Mahmud Badaruddin II enggan untuk menembak. "Jangan sampai orang mengatakan", gumamnya lirih, "Mahmud Badaruddin II tega membunuh kerabatnya demi kekuasaan."

Karena hal ini, pasukan Belanda berhasil menembus pertahanan Kuto Besak dan perang dahsyat terjadi hingga 25 Juni 1821. Sang Sultan berhasil ditangkap. Pada 13 Juli 1821, Kapal Dageraad mengangkat sauh membawa Sultan ke Batavia, dan selanjutnya ke tempat pembuangannya di Ternate. Pahlawan agung dari n.egeri Pempek ini wafat di bumi Moluku Kie Raha pada 26 September 1852.

Di Ternate ini pula pertama saya berjumpa De' @hamas.syahid dan kedua bertemu Ummi @yulyani_ummuhamas, hingga kemudian mereka berkunjung ke Jogokariyan. Tempo hari, kami sekeluarga membalas kunjungan itu ke Surabaya dan kamipun dijamu Pempek Yenna, singkatan panggilan Ummi, "Yeyen dan Anak-anak." Ini rupanya bisnis yang dirintis sang pemeran Mas Gagah di #kmgpthemovie.


Pempek ini, rasanya lezat, cukonya mantab. Aman kau ke Surabaya sano gek, jangan lupo bawa pempek dari uwong belagak yang pacak gawe. Cak mano, dak cayo kau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar