Minggu, 09 Juli 2017

TUANKU dari BENTENG DALU-DALU

[In reply to Salim A Fillah - Quotes Telegram]
TUANKU dari BENTENG DALU-DALU
@salimafillah

Lelaki berwajah bulat jenaka namun teguh dan pantang menyerah itu lahir pada tahun 1784 di desa niaga Minangkabau bernama Dalu-dalu, tepian Sungai Sosah, Nagari Tambusai, di pengaliran hulu Sungai Rokan.


Ayahnya yang bergelar Tuanku Imam Muhammad Qadli, demikian disebutkan antara lain oleh Mangaradja Onggang Parlindungan dalam karyanya, 'Tuanku Rao', berdarah Mandailing dan bermarga Harahap. Maka sang putrapun menyandang nama lahir Hamonangan Harahap.

Ibunya, Sitti Munah, asli Minang dari suku Kandang Kopuh, seorang wanita yang 'alimah lagi shalihah. Hamonangan muda belajar agama ke Rao dan kemudian ke Bonjol, serta dilanjutkan ke Makkah. Dia lalu dipanggil sebagai Tuanku Muhammad Saleh sepulang dari Tanah Suci.

Perang menegakkan agama yang terjadi di bentangan pesisir barat Sumatera hingga pedalaman Luhak-luhak dan Tanah Batak Selatan telah menjelma menjadi jihad melawan penjajahan Belanda. Muhammad Saleh segera membangun Dalu-dalu menjadi benteng pertahanan yang amat kukuh.

Setelah pertempuran Air Bangis yang dahsyat dan gugurnya Tuanku Rao, perlawanan mujahidin dipusatkan di Bonjol. Muhammad Saleh yang lalu dikenal sebagai Tuanku Tambusai bertanggungjawab atas seluruh daerah pengaliran Sungai Rokan dan bahkan dengan gemilang memperluas perlawanan ke wilayah Natal pada 1823. Tahun 1824, Tuanku Tambusai memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk memukul kedudukan Raja Gadumbang Siregar, Regent Mandailing di bawah Belanda.

Selama 15 tahun, demikian Muhammad Radjab dalam 'Perang Paderi' menyimpulkan, Tuanku Tambusai menjadi Panglima Padri paling tangguh yang dihadapi Belanda. Fort Amerongen, benteng Belanda di Rao berhasil dihancurkannya. Ketika pasukan gabungan Belanda merebut Benteng Bonjol pada awal tahun 1837, Tuanku Tambusai bergerak dari Rokan Hulu dan berhasil merebut kembali simbol perlawanan dahsyat itu, meski kedatangan pasukan Belanda dari Batavia disertai Hulptropen yang amat besar memaksanya mundur ke Dalu-dalu.

Oleh Belanda ia digelari 'De Padrische Tijger van Rokan' (Harimau Padri dari Rokan), karena amat sulit dikalahkan, tak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berunding, meski kedudukan Dalu-dalu kian terjepit.

Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu yang tangguh itu jatuh ke tangan Belanda, namun Sang Harimau lolos dari tangkapan. Dia hijrah dan wafat di Seremban, Negeri Sembilan, Semenanjung Malaya pada tanggal 12 November 1882.


Esok Ahad insyaallah perkongsian #RihlahDakwah akan berkhidmah pada para pewaris Tuanku Tambusai di pengaliran Rokan hingga Kampar, mendampingi ta'lim oleh Gurunda KH Musthafa 'Umar di Masjid Agung An Nuur Pekanbaru. Ahlan wa sahlan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar