Minggu, 09 Juli 2017

SEYOGYANYA

SEYOGYANYA
@salimafillah

Tiga Jamhur Sejarah Jawa; Peter Carey, Jakobus Norduyn, dan Merle C. Ricklefs memperbincangkan asal-usul nama Yogyakarta, Malioboro, dan beberapa pernik kota cantik ini dalam buku yang menghimpun esai mereka bertiga.

Ayogya, Ngayogya, Ngayogyakarta, dan Yogyakarta agaknya tetap menjadi bahan debat asyik yang tak tersimpulkan.


Kota ini berdiri di sebuah bentang medan yang datar dengan kisaran lereng hanya 3%, terletak di tengah jazirah Kewu-Mataram yang sejak lama menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan beberapa kerajaan. Ini memungkinnya dibangun dalam blok-blok bagai papan catur sehingga janganlah terkejut kalau menanyakan arah tempat, orang Yogya akan menjawab dengan mata-angin lengkap. Bukan kanan dan kiri saja.


"Ini lurus ke utara Mas, sampai perempatan nanti belok ke timur, lurus dikit ke timur ada pom bensin di selatan jalan, lha yang sampean cari ada di seberangnya, utara jalan, tepat di sebelah barat toko kelontong." Pusing? He he..

Pengapitnya berupa 3 sungai di barat (Progo, Bedog, Winongo) dan 3 sungai di timur (Code, Opak, Oya) yang menjamin ketersediaan air, menyalurkan air buangan, menjaganya dari banjir, dan sebagai garis pertahanan alami.

Di ufuk utara, tampak Gunung Merapi yang menaburkan kesuburan dengan abu vulkanisnya, sementara bahaya letusan dan awan panasnya ke arah Kota Yogyakarta diperisai oleh bukit kembar; Turgo dan Pelawangan. Di arah selatan, Samudera Hindia yang membentang penuh dengan potensi besar namun bergempa; terbentengi tsunaminya oleh anak perbukitan kapur selatan dari arah Panggang hingga Pajangan.

Gunung, lembah, hutan, pantai hitam maupun yang putih, hingga Gumuk Pasir yang bagai gurun, menyatu dengan dimahkotai Kraton yang dari Panggung Krapyak (rahim) di selatan hingga Tugu Golong Gilig (tauhid) di utara menggambarkan asal dan tujuan hidup berkehambaan.

Mari berplesetan, guyon ringan ala Yogya bahwa mungkin karena inilah ada kata "seyogyanya."

Eh, apakah arti kata "seyogyanya"? adverbia (r) 1. sepatutnya; selayaknya; semestinya (adverbia) 2. sebaiknya; seharusnya (adverbia) Jadi Yogya memang patut, layak, mesti, dan harus, hehe..

Memang masih amat banyak yang harus dibenahi di kota ini untuk menuju kota ideal seperti yang dicitakan pendirinya, Sultan Mangkubumi. Kota yang hamemayu hayuning bawana, mempercantik kecantikan dunia; kota yang catur sagatra Masjid-Alun-alun-Keraton-Pasar nya menjaga nilai kemajuan dalam keselarasan; kota yang penduduknya nyawiji (menyatu), greget (penuh semangat pada kebaikan), sengguh (yakin dan meyakinkan), dan ora mingkuh (berani bertanggungjawab).

Tapi, dengan tetap penuh penghargaan pada misalnya, Bandung dan Surabaya yang punya Walikota nan masyhur kecakapannya, bagi kita tetap hanya ada kata "seyogyanya". Tak ada "sebandungnya" dan tak ada pula "sesurabayanya", ha ha ha..

Inilah kota yang seyogyanya kita cintai. Jadi kapan ke Yogya lagi?

FOTO: Jogokariyan Dakwah Club oleh @upialwie di mana pesan di atas disampaikan pada para calon pemangku amanah Kota Yogyakarta.



https://www.instagram.com/p/BG5Y1q-GUUv/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar